Konflik Perbatasan Thailand Kamboja: Sejarah Panjang dan Eskalasi Terkini di Preah Vihear

konflik-perbatasan-thailand-kamboja-2025-preah-vihear

TopserMedia.comKonflik perbatasan antara Thailand Kamboja kembali mencuri perhatian dunia pada Desember 2025. Ketegangan ini bukan hal baru. Ia berakar dari sengketa wilayah yang sudah berlangsung puluhan tahun, khususnya di sekitar Candi Preah Vihear. Warga lokal kini menghadapi ancaman nyata. Mereka mengungsi ke zona aman. Saya, sebagai pengamat hubungan internasional, melihat ini sebagai pelajaran berharga tentang nasionalisme yang membara.

Sejarah Singkat Sengketa Perbatasan Thailand-Kamboja

Thailand dan Kamboja berbagi garis batas panjang sejak era kolonial. Prancis, sebagai penjajah Kamboja, menggambar peta pada 1907. Peta itu menempatkan Candi Preah Vihear di sisi Kamboja. Namun, Thailand menolak batas itu. Mereka klaim kuil kuno abad ke-11 itu milik mereka.

Pada 1959, Kamboja ajukan kasus ke Mahkamah Internasional (ICJ). Hakim putuskan pada 1962. Kuil Preah Vihear jadi milik Kamboja. Thailand terima putusan itu dengan berat hati. Tapi, akses jalan menuju kuil tetap jadi perdebatan. Warga Thailand sering kunjungi situs itu tanpa hambatan. Hal ini picu gesekan kecil sejak lama.

Lalu, pada 2008, konflik meledak lagi. UNESCO daftarkan Preah Vihear sebagai warisan dunia. Kamboja rayakan itu sebagai kemenangan. Thailand protes keras. Mereka kirim pasukan ke area sekitar. Bentrokan sporadis terjadi. Artileri saling tembak. Puluhan tentara tewas. ASEAN coba mediasi. Tapi, upaya itu gagal total.

Asal Mula Ketegangan di Preah Vihear

Candi Preah Vihear berdiri megah di puncak Pegunungan Dangrek. Ia simbol kebesaran Khmer kuno. Thailand lihat kuil itu sebagai bagian budaya mereka. Kamboja anggapnya warisan nasional. Sengketa ini bukan hanya soal tanah. Ia campur aduk dengan politik dalam negeri kedua negara.

Pada 2011, bentrokan capai puncak. Ribuan peluru artileri beterbangan. Desa-desa di sekitar hancur. ICJ intervensi lagi. Mereka perintahkan tarik mundur pasukan. Kedua pihak patuhi sementara. Gencatan senjata berlangsung hingga 2025. Tapi, akar masalah tak terselesaikan. Nasionalisme bangkit setiap kali pemilu atau isu ekonomi muncul.

Menurut pakar sejarah Asia Tenggara, Dr. Thongchai Winichakul, sengketa ini lahir dari “peta imajiner” kolonial. Ia bilang, batas negara sering abaikan realitas budaya lokal. Saya setuju. Batas itu pisahkan komunitas yang sudah hidup berdampingan berabad-abad. Hasilnya? Konflik berulang yang sia-sia.

Eskalasi Perang di Perbatasan Thailand-Kamboja Tahun 2025

Tahun 2025 jadi titik kritis. Pada Juli, ketegangan naik setelah sengketa lahan baru. Thailand tuduh Kamboja bangun pos militer di zona netral. Kamboja balas tuduh Thailand intrusi. Bentrokan darat pecah di Oddar Meanchey. Thailand luncurkan serangan udara pertama pada 24 Juli. Mereka gunakan jet tempur.

Kamboja respons cepat. Mereka tembak balik dengan roket. Pertempuran lanjut hingga Agustus. Situasi tenang sementara. Tapi, pada 8 Desember 2025, Thailand serang lagi. Kali ini, targetnya lebih luas. F-16 Thailand bom posisi di Preah Vihear dan Banteay Meanchey. Setidaknya lima orang tewas. Ribuan luka.

PBB khawatir eskalasi ini. Mereka panggil duta besar kedua negara. ASEAN gelar rapat darurat. Tapi, diplomasi lambat. Sementara itu, warga sipil jadi korban utama. Saya yakin, tanpa tekanan internasional kuat, perang di perbatasan antara Thailand dan Kamboja bisa meluas.

Serangan Udara Thailand dan Respons Kamboja

Serangan udara Thailand pada Desember 2025 jadi pukulan telak. Mereka klaim target hanya fasilitas militer. Tapi, bom jatuh dekat pemukiman. Kamboja tuduh Thailand pakai gas beracun. Tuduhan itu muncul sejak Juli. Analis militer verifikasi klaim itu sulit. Namun, korban sipil naik tajam.

Kamboja kirim bantuan ke zona konflik. Mereka evakuasi ribuan warga. Tentara Kamboja perkuat pertahanan. Perdana Menteri Hun Manet janji balas dendam proporsional. Thailand, di sisi lain, bilang serangan itu defensif. Menteri Pertahanan mereka sebut Kamboja provokator.

Daerah Zona Merah: Preah Vihear, Oddar Meanchey, dan Banteay Meanchey

Daerah zona merah seperti Preah Vihear, Oddar Meanchey, dan Banteay Meanchey kini benar-benar terlarang bagi warga sipil. Preah Vihear jadi pusat pertempuran. Kuil itu tutup total. Oddar Meanchey hancur akibat artileri. Banteay Meanchey alami penutupan jalur perdagangan.

Dampak pada Penduduk Setempat dan Pengungsian Massal

Warga penduduk setempat sudah mengungsi ke tempat zona aman sejak pertengahan tahun. Di Preah Vihear, keluarga pisah karena tembak-menembak. Di Oddar Meanchey, listrik padam berminggu-minggu. Banteay Meanchey lihat harga beras naik 50 persen.

Pemerintah Kamboja bangun kamp di Siem Reap. Thailand evakuasi warganya ke Surin. Ribuan orang hidup di tenda. Anak-anak belajar di bawah pohon. Ibu-ibu masak bersama. Ketangguhan mereka luar biasa.

Opini Ahli dan Solusi Masa Depan

Dr. Pavin Chachavalpongpun dari Kyoto University bilang konflik ini selalu dipicu politik domestik. Saya setuju sepenuhnya. Nasionalisme jadi alat kampanye murah. Solusi jangka panjang? Bangun kerja sama ekonomi lintas batas, libatkan warga lokal dalam dialog perdamaian, dan buat zona demiliterisasi permanen.

Akhirnya, konflik perbatasan antara Thailand Kamboja mengingatkan kita: batas negara tidak boleh memisahkan kemanusiaan. Warga Preah Vihear, Oddar Meanchey, dan Banteay Meanchey berhak hidup damai.

(sumber berita ini dari beberapa media terpercaya)